Tampilkan postingan dengan label praktek meditasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label praktek meditasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Lebih Hidup Dari Hari Kehari

Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
KAMIS MINGGU V PRAPASKAH 2013

Kehidupan datangnya dalam berbagai bentuk dan ukuran dan dari berbagai arah yang tidak terduga. Hal ini tidak tertahankan. Meskipun demikian penolakan kehidupan juga merajalela. Penolakan seringkali dimulai dengan ketakutan karena kehidupan ditandai oleh adanya perubahan oleh karena itu dituntut penyesuaian kita. Bila tuntutan ini terlalu menakutkan kita berusaha untuk mengurangi kemungkinan kehidupan baru itu membatasi kekuatannya sehingga kita dapat mengawasi dengan lebih baik. Tidak lama kemudian yang kita lakukan adalah keberhasilan membuatnya tak berdaya. Kemudian kita mengeluh karena kehidupan tampaknya jadi membosankan atau dirasakan tidak sesuai.


Kamis, 14 Maret 2013

Mata Air yang Murni

Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
Kamis Minggu IV Prapaskah 2013



Masa Prapaskah segera akan beralih dan berujud sebagai salah satu permenungan terbesar dan terdalam dan makna dari suatu penderitaan. Kita berharap bahwa kita siap menghadapinya tahun ini.

Ada banyak bentuk penderitaan, seperti halnya ada banyak perwujudan kasih. Mungkin di dalam rahasia besar alam semesta ini, keduanya benar-benar sebanding. Ketika pikiran bingung, dilanda keraguan, bercabang dan gelisah kita mengalami suatu penderitaan yang khusus. Mungkin saat itu belum muncul dalam kehidupan kita dan dalam hubungan kita dengan orang lain. Tergantung pada ukuran pengendalian diri kita atau kemampuan kita untuk tampil baik. Namun, pada akhirnya tidak ada rahasia yang tak terkuak. Beberapa rahasia dikubur - atau lama tetap di sana.

Selasa, 05 Maret 2013

Aku Bukan Apa-apa

Lent Daily Reflections by Laurence Freeman OSB.
Selasa Minggu III Prapaskah



"Aku tidak punya apa-apa, aku tidak ingin apa-apa, aku tidak tahu apa-apa." Inilah kalimat yang selalu diucapkan oleh para mistikus abad pertengahan dan terkesan negatif bagi telinga kita dan kata ganti orangpun disorot penuh kecurigaan. Terlalu banyak aku untuk menonjolkan pernyataan tidak pada dirinya


Jumat, 01 Maret 2013

Memajukan Keadilan Sosial Melalui Latihan Kontemplatif

Daily Lent Reflections - Laurence Freeman, OSB
Jumat Minggu II Prapaskah


Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak murid-murid terdekatnya kesamping dan memperingatkan mereka pada takdir yang akan menimpa diri-Nya dan mereka di Yerusalem. Setelah itu dikisahkan bahwa ibu bersama anak-anaknya yaitu dua orang dari antara murid-muridNya mendekati-Nya, dengan hormat meminta Yesus untuk memberi mereka pekerjaan yang baik di pemerintahannya yang baru setelah Dia berkuasa. Perbedaan pemahaman dan kecerdasan rohaniah ini cukup mencengangkan dan mungkin tidak banyak berubah selama dua ribu tahun sejak itu. Kita menghilangkan segala sesuatu yang tidak ingin kita dengar dan bila memungkinkan kita memaksakan memasukkan acara kita.

Menjaga Hati

Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB.
Kamis Minggu II Prapaskah.



Kebanyakan dari kita sekarang ini mungkin merasakan sedikit bahkan kegagalan yang sangat terhadap latihan prapaskah kita. Kita tidak menyelesaikannya dengan baik. Atau barangkali kita seharusnya dapat melakukannya dengan lebih baik. Pemeriksaan hati nurani sesekali dapat bermanfaat untuk menghilangkan umpan balik negatif yang memutar kita turun. Hal ini juga dapat membantu untuk memutuskan rasa sadar diri yang mendasari pemisahan antara yang nyata dan yang dibuat-buat.

Rabu, 27 Februari 2013

Kebiasaan yang Memberi Kehidupan

Lent Daily Reflections - Fr. Laurence Freeman, OSB
Rabu Minggu II Prapaskah.


Marilah kita kembali pada topik kebiasaan. Prapaskah adalah mengenai kebiasaan. Mark Twain mengatakan tidak ada yang perlu diperbaiki selain kebiasaan orang lain. (Ambillah balok dari matamu sendiri sebelum menunjuk adanya selumbar di mata orang lain).


Prapaskah adalah tentang memperbaiki kebiasaan diri kita sendiri.


Rabu, 20 Februari 2013

Selasa Minggu I Prapaskah

Daily Lent Reflections - Fr. Laurence Freeman.


Beberapa waktu yang lalu ketika saya di India, salah seorang pemandu kami menyatakan bahwa ia dan keluarganya adalah ahli nujum dengan ini menambahkan pengetahuannya pada tempat yang sedang kami kunjungi. Tak lama kemudian orang-orang diam-diam mendekati dan meminta dia untuk membaca telapak tangan mereka. Seperti biasa tanggapannya adalah – ‘luar biasa, bagaimana dia bisa tahu ya…’ dsb.

Selasa Minggu I Prapaskah

Daily Lent Reflections - Fr. Laurence Freeman 


Kebiasaan sangat menentukan siapa diri kita. Namun kita salah menganggap bahwa ‘hidup’ kita itu alamiah dan terima saja apa adanya. Tentu saja bukan demikian dan kita sebaiknya tidak demikian. Hidup kita dapat berbalik dari atas kebawah dan dari dalam keluar hanya dalam sekejap mata. Semua susunan saraf kita menyusut dan pecah dan kita harus mulai dari awal lagi. Kita ‘membangun kembali hidup kita’ sebagai kebiasaan yang benar-benar dipasang kembali di otak dan tubuh kita yang terluka. 




Selasa, 19 Februari 2013

Senin Minggu I Prapaskah


Daily Lent Reflections - Fr. Laurence Freeman.


Kitab Keluaran secara tradisional,adalah kitab pendamping Prapaskah. Kitab ini menceritakan kisah - atau tepatnya mitos dasar - tentang pelarian bangsa Israel dari tindasan di Mesir. Catatan sejarah tidak mendukung secara harfiah kisah ini namun hal ini merupakan salah satu cerita lanjut tentang arti,kemanusiaan. Suatu kebenaran yang lain lagi.

Rabu, 13 Februari 2013

Rabu Abu

Lent Daily Reflection 2013 - Fr. Laurence Freeman OSB.


Dalam biara yang baru saja saya kunjungi ada sebuah program satu bulan pemulihan dari kecanduan obat yang berhasil. Saya terkesan dengan sumpah yang mereka ucapkan pada awal masa perawatan mereka. Secara harafiah sumpah tersebut adalah sumpah untuk ‘kebenaran’.


Sumpah tersebut melibatkan suatu komitmen untuk mengikuti seluruh program dan tidak menyerah. Atau – menurut kodrat manusia – untuk memulai lagi jika mereka memang menyerah. Sumpah ini dapat diambil atas nama iman mereka sendiri atau atas nama alam semesta. Dalam rumusan apa pun, sumpah ini adalah sebuah tindakan mempercayai diri mereka sendiri, mempercayai kedalaman dan dimensi transenden mereka, dan juga kemampuan mereka untuk menjadi utuh.



Kamis, 02 Agustus 2012

Sekali lagi tentang Pengenalan Meditasi Kristiani


Meditasi adalah sebuah bentuk doa kuno.

Doa ini dapat ditemukan sepanjang jaman dalam tradisi Kristiani, dalam jemat Gereja perdana. 


Fr. John Main, OSB seorang rahib Benediktin kelahiran London 1926, menemukan tradisi doa ini dalam ajaran Yohanes Kasianus dan para bapa dan ibu Padang Gurun dari abad ke 4, yang semuanya kemudian mempengaruhi ajaran St. Benediktus tentang doa.

Selanjutnya Dom John Main membawa dan mengenalkan kembali kepada kita  bentuk doa ini dan dikenal sebagai sebuah bentuk doa yang relevan dan sangat diperlukan oleh orang-orang modern.

Minggu, 08 Juli 2012

MODEL-MODEL DOA

Siriakus Maria Ndolu, OCarm.


Pada umumnya, ada dua model doa dan spiritualitas. Tradisi Kataphatik adalah salah satunya dimana kata-kata dan gambaran digunakan didalam doa dan itu secara umum dihubungkan dengan Barat. Tradisi Apophatik adalah suatu cara doa tanpa gambaran yang secara umum dihubungkan dengan Timur.

Jumat, 20 April 2012

RETRET IMAM : Meditasi Dalam Hidup Berpastoral


Tan Thian Sing, MSF


“Doa batin adalah puncak doa. Di dalamnya Allah melengkapi kita dengan kekuatan melalui Roh- Nya, supaya “manusia batin” diperkuat di dalam kita, dan Kristus tinggal di dalam hati kita oleh iman, dan kita “berakar serta berdasar di dalam kasih” (Ef 3:16-17) (Katekismus Gereja Katolik
no.2714)”

Ketika memberikan pengajaran di rumah Marta dan Maria (Luk 10:38-42), untuk pertama kalinya Tuhan Yesus memberikan pembelaan tentang hidup kontemplatif dalam tradisi Kristiani melawan tuduhan yang sering dilontarkan bahwa cara hidup yang menyendiri dan keheningan dalam kontemplatif adalah egois dan tidak peka terhadap kebutuhan dunia. Lewat pengajaran tersebut, Yesus bukan hanya membela cara hidup Maria yang kontemplatif, tetapi juga menegaskannya dengan berkata: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”.

Kamis, 16 Desember 2010

UCAPKAN KATA DOA ANDA



Nasihat praktis dari para guru doa dapat disimpulkan dalam petunjuk sederhana: "Ucapkan mantra anda", Gunakanlah kata-kata sederhana ini". The Cloud of Unknowing menasihatkan, "berdoa bukanlah banyak berkata-kata tetapi cukup dengan mengucapkan sebuah kata pendek. Tanamkanlah kata ini ke dalam hati anda sehingga selalu ada disana. Dengan kata ini anda akan menekan semua pikiran".

Abbas Chapman, dalam suratnya kepada Michaelmas tahun 1920, menjelaskan bahwa penggunaan mantra yang sederhana dan diucapkan dengan setia, ia temukan sendiri berdasarkan pengalamannya bertekun dalam doa dan bukan ia dapatkan dari ajaran para guru. Ia telah menemukan kembali sebuah tradisi doa yang telah lama ada dan yang memasuki dunia Barat melalui kehidupan membiara. Pertama kali dipelopori oleh Yohanes Kasianus di akhir abad keempat. Kasianus sendiri menerimanya dari bapa-bapa padang gurun yang merupakan warisan hidup sejak zaman para Rasul.

Doa dengan mantra dalam tradisi doa Kristiani diminati orang terutama karena kesederhanaannya. Doa ini menjawab segala persyaratan doa dari nasehat para guru doa karena mantra membawa kita pada keheningan dan keselarasan antara pikiran, tubuh dan roh. Kita tidak membutuhkan bakat atau anugerah khusus kecuali kemauan yang serius dan tekad untuk tetap tekun berdoa.

Kasianus berkata bahwa "Tidak ada seorangpun yang tidak dapat memiliki hati yang murni oleh karena ketidak mampuannya membaca atau karena orang sederhana. Setiap rintangan yang ada dapat mereka atasi kalau saja mereka mau menjaga pikiran dan hati untuk tetap penuh perhatian kepada Allah dengan mengulangi kalimat ini secara terus menerus". Mantra kita adalah doa dalam bahasa Aram kuno, "Maranatha, Maranatha". "Datanglah Tuhan. Datanglah Tuhan Yesus".


(The Teaching of John Main on Christian Meditation - WCCM Sby)

Sabtu, 04 Desember 2010

BAGAIMANA BERLATIH MEDITASI


MEDITASI, merupakan kebutuhan yang alami bagi jiwa kita seperti halnya napas bagi tubuh. Meditasi ini berakar dalam tradisi Kristiani, dan merupakan suatu disiplin rohani, suatu jalan yang sederhana untuk bersatu dengan Roh Kristus. Tradisi tidak pernah mengatakan meditasi adalah satu-satunya jalan atau bahkan merupakan cara yang terbaik untuk berdoa. Meditasi hanya menyampaikan pentingnya doa hening atau doa kontemplatif.

Pada awalnya, meditasi diajarkan dalam Gereja perdana oleh Bapa Padang Gurun dan disperkenalkan kembali pada masa kini oleh Pastor John Main OSB. Tradisi menganjurkan praktek sederhana berikut ini :

  1. Pilihlah suatu tempat yang tenang.
  2. Duduk senyaman mungkin dengan punggung tegak.
  3. Tutuplah mata.
  4. Duduklah setenang mungkin.
  5. Napas dalam. Rileks, tetapi tetap sadar.
  6. Mengucapkan mantra pelahan-lahan di dalam hati.
  7. Terus mengucapkan mantra dengan tekun selama bermeditasi.
  8. Segera setelah Anda sadar bahwa Anda telah berhenti mengucapkan mantra, kembalilah mengucapkan mantra lagi.
  9. Tetap menggunakan kata yang sama selama bermeditasi dari hari-kehari.

Ingatlah bahwa akar segala pelanturan adalah "keakuanku" Selama kita bermeditasi, kita sesungguhnya meninggalkan "ke-akuan-ku". Mantra yang dianjurkan adalah Maranatha, sebuah doa Kristiani bahasa Aram. yang berarti "Datanglah Tuhan" . Ulangi kata doa ini dalam empat suku kata yang sama : Ma-ra-na-tha.

Saat Anda mengucapkan kata tersebut dalam hati, dengarlah dengan perhatian. Namun, jangan berpikir tentang arti kata itu. Pelanturan akan terjadi tetapi jangan berusaha untuk menekan atau melawannya. Biarkan pelanturan itu berlalu. Pada waktu Anda sadar bahwa Anda melantur, kembalilah mengucapkan mantra. Itulah fungsi dari mantra. Dianjurkan untuk bermeditasi dua kali sehari, sebaiknya di pagi hari dan sore hari. Lama meditasi yang terbaik adalah 30 menit dan secara bertahap menjadi 25 menit, dan akhirnya 30 menit.

Setelah Anda mulai melakukan meditasi harian yang sederhana ini, ada beberapa petunjuk tentang sikap Anda dalam bermeditasi agar Anda dan teman kelompok dapat masuk ke kedalaman diri Anda.

Pertama-tama, jangan menilai kemajuan meditasi Anda. Perasaan gagal atau berhasil dapat menjadi pelanturan yang terbesar dari segala pelanturan. Jangan mengharapkan atau mencari suatu "pengalaman istimewa" dalam meditasi. Anda tidak perlu merasakan harus ada sesuatu yang terjadi. Mungkin pada permulaan hal ini terasa aneh, karena pengalaman hening masih sangat asing bagi sebagian besar dari kita dan juga bukanlah hal yang membudaya di dalam masyarakat.

Kita tidak terbiasa menjadi sederhana. Namun HENING, DIAM, dan SEDERHANA benar-benar mempunyai suatu tujuan. Dalam salah satu perumpamaan tentang Kerajaan Surga, Yesus membandingkan Kerajaan Surga tersebut dengan seseorang yang menabur benih di tanah. Orang itu kemudian pergi dan meneruskan pekerjaan sehari-hari lainnya. Benih itu tumbuh dan muncul dipermukaan. "Bagaimana benih itu tumbuh, orang itu tidak mengetahuinya". Hal yang sama terjadi pada kita, mantra itu mengakar dalam hati kita. Dan sama seperti di dalam perumpamaan tadi, suatu waktu pasti ada tanda-tanda pertumbuhan. Bisa saja Anda tidak menemuinya dalam meditasi, tetapi justru dalam hidup Anda. Anda akan mulai menuai buah-buah Roh. Anda akan menemukan bahwa Anda mulai berubah dalam kasih. Dan bila Anda pernah menghentikan latihan meditasi Anda, misalnya sehari atau sebulan atau setahun, sebaiknya mulailah lagi, dengan penuh kepercayaan akan kemurahan yang tak terbatas dari Roh Kudus yang hadir di dalam dan di antara kita semua.


(Laurence Freeman OSB, "A Pearl of Great Price" )

MANTRA


Meditasi adalah latihan rohani yang universal yang membimbing kita ke dalam keadaan doa, kedalam doa Kristus.Ia membawa kita kepada hening, diam, dan sederhana, dengan cara hening, diam dan sederhana itu sendiri.

Caranya adalah mengulangi suatu kata yang suci dengan setia dan penuh cinta selama waktu meditasi. Sekarang ini kata suci itu kita namakan "mantra". Inilah cara berdoa kristiani yang kuno yang telah ditemukan kembali oleh seorang rahib Benediktin, Pater John Main (1926-1982).

John Main menemukan kembali cara membawa pikiran untuk beristirahat dalam hati lewat ajaran para rahib Gereja Perdana,terutama John Cassian pada abad ke-4. Tradisi yang sama seperti dalam buku Cloud of Unknowing yang ditulis di Inggris pada abad ke 14.

Berikut cara bermeditasi yang diajarkan oleh John Main.
- Duduk diam dengan punggung tegak.
- Tutuplah mata.
- Ulangi mantra dalam hati secara terus menerus.
Pilihlah waktu dan tempat yang tenang dan bermeditasilah kira-kira 20-30 setiap pagi dan malam.

Mantra yang ideal adalah ungkapan dalam bahasa Aram kuno, "Maranatha". Ucapkanlah denga jelas dan tanpa berhenti selama meditasi, sebagai empat suku kata yang sama panjang : MA-RA-NA-THA.

Ucapkanlah tanpa tergesa-gesa dan tanpa mengharapkan sesuatu akan terjadi. Dengarlah mantra dan kembalilah mengucapkannya bilamana pikiran Anda melayang atau melamun. Bersikaplah sederhana dan lakukanlah dengan setia.

Bahasa Aram adalah bahasa percakapan Yesus, kata 'abba', yang terus menerus digunakan untuk Allah, juga dari bahasa ini. 'Maranatha' adalah doa kuno, yang berarti 'Tuhan datanglah', 'Tuhan telah datang'. St. Paulus mengakhiri Surat Pertama kepada umat di Korintus dan St Yohanes mengakhiri Kitab Wahyu dengan ungkapan ini, yang menyatakan iman yang dalam dan sederhana dari Gereja Perdana.

Sementara Anda mengucapkan mantra, jangan berpikir tentang artinya. Mantra lebih membimbing kita ke kedalaman diri daripada pikiran. Ia membimbing kita dengan iman. Kita mengucapkan mantra dengan penuh iman dan cinta kasih. Mendengarkan mantra ketika kita mengucapkannya merupakan proses yang semakin mendalam dari suatu perjalanan iman.


(dipetik dari : Latihan Harian Meditasi Kristiani - Laurence Freeman, OSB , Obor 1998)