Jumat, 22 Maret 2013
Lebih Hidup Dari Hari Kehari
Kamis, 14 Maret 2013
Mata Air yang Murni
Selasa, 05 Maret 2013
Aku Bukan Apa-apa
Jumat, 01 Maret 2013
Memajukan Keadilan Sosial Melalui Latihan Kontemplatif
Menjaga Hati
Kamis Minggu II Prapaskah.
Rabu, 27 Februari 2013
Kebiasaan yang Memberi Kehidupan
Rabu Minggu II Prapaskah.
Rabu, 20 Februari 2013
Selasa Minggu I Prapaskah
Selasa Minggu I Prapaskah
Selasa, 19 Februari 2013
Senin Minggu I Prapaskah
Rabu, 13 Februari 2013
Rabu Abu
Kamis, 02 Agustus 2012
Sekali lagi tentang Pengenalan Meditasi Kristiani
Fr. John Main, OSB seorang rahib Benediktin kelahiran London 1926, menemukan tradisi doa ini dalam ajaran Yohanes Kasianus dan para bapa dan ibu Padang Gurun dari abad ke 4, yang semuanya kemudian mempengaruhi ajaran St. Benediktus tentang doa.
Minggu, 08 Juli 2012
MODEL-MODEL DOA
Pada umumnya, ada dua model doa dan spiritualitas. Tradisi Kataphatik adalah salah satunya dimana kata-kata dan gambaran digunakan didalam doa dan itu secara umum dihubungkan dengan Barat. Tradisi Apophatik adalah suatu cara doa tanpa gambaran yang secara umum dihubungkan dengan Timur.
Jumat, 20 April 2012
RETRET IMAM : Meditasi Dalam Hidup Berpastoral
Kamis, 16 Desember 2010
UCAPKAN KATA DOA ANDA

Abbas Chapman, dalam suratnya kepada Michaelmas tahun 1920, menjelaskan bahwa penggunaan mantra yang sederhana dan diucapkan dengan setia, ia temukan sendiri berdasarkan pengalamannya bertekun dalam doa dan bukan ia dapatkan dari ajaran para guru. Ia telah menemukan kembali sebuah tradisi doa yang telah lama ada dan yang memasuki dunia Barat melalui kehidupan membiara. Pertama kali dipelopori oleh Yohanes Kasianus di akhir abad keempat. Kasianus sendiri menerimanya dari bapa-bapa padang gurun yang merupakan warisan hidup sejak zaman para Rasul.
Doa dengan mantra dalam tradisi doa Kristiani diminati orang terutama karena kesederhanaannya. Doa ini menjawab segala persyaratan doa dari nasehat para guru doa karena mantra membawa kita pada keheningan dan keselarasan antara pikiran, tubuh dan roh. Kita tidak membutuhkan bakat atau anugerah khusus kecuali kemauan yang serius dan tekad untuk tetap tekun berdoa.
Kasianus berkata bahwa "Tidak ada seorangpun yang tidak dapat memiliki hati yang murni oleh karena ketidak mampuannya membaca atau karena orang sederhana. Setiap rintangan yang ada dapat mereka atasi kalau saja mereka mau menjaga pikiran dan hati untuk tetap penuh perhatian kepada Allah dengan mengulangi kalimat ini secara terus menerus". Mantra kita adalah doa dalam bahasa Aram kuno, "Maranatha, Maranatha". "Datanglah Tuhan. Datanglah Tuhan Yesus".
(The Teaching of John Main on Christian Meditation - WCCM Sby)
Sabtu, 04 Desember 2010
BAGAIMANA BERLATIH MEDITASI

Pada awalnya, meditasi diajarkan dalam Gereja perdana oleh Bapa Padang Gurun dan disperkenalkan kembali pada masa kini oleh Pastor John Main OSB. Tradisi menganjurkan praktek sederhana berikut ini :
- Pilihlah suatu tempat yang tenang.
- Duduk senyaman mungkin dengan punggung tegak.
- Tutuplah mata.
- Duduklah setenang mungkin.
- Napas dalam. Rileks, tetapi tetap sadar.
- Mengucapkan mantra pelahan-lahan di dalam hati.
- Terus mengucapkan mantra dengan tekun selama bermeditasi.
- Segera setelah Anda sadar bahwa Anda telah berhenti mengucapkan mantra, kembalilah mengucapkan mantra lagi.
- Tetap menggunakan kata yang sama selama bermeditasi dari hari-kehari.
Ingatlah bahwa akar segala pelanturan adalah "keakuanku" Selama kita bermeditasi, kita sesungguhnya meninggalkan "ke-akuan-ku". Mantra yang dianjurkan adalah Maranatha, sebuah doa Kristiani bahasa Aram. yang berarti "Datanglah Tuhan" . Ulangi kata doa ini dalam empat suku kata yang sama : Ma-ra-na-tha.
Saat Anda mengucapkan kata tersebut dalam hati, dengarlah dengan perhatian. Namun, jangan berpikir tentang arti kata itu. Pelanturan akan terjadi tetapi jangan berusaha untuk menekan atau melawannya. Biarkan pelanturan itu berlalu. Pada waktu Anda sadar bahwa Anda melantur, kembalilah mengucapkan mantra. Itulah fungsi dari mantra. Dianjurkan untuk bermeditasi dua kali sehari, sebaiknya di pagi hari dan sore hari. Lama meditasi yang terbaik adalah 30 menit dan secara bertahap menjadi 25 menit, dan akhirnya 30 menit.
Setelah Anda mulai melakukan meditasi harian yang sederhana ini, ada beberapa petunjuk tentang sikap Anda dalam bermeditasi agar Anda dan teman kelompok dapat masuk ke kedalaman diri Anda.
Pertama-tama, jangan menilai kemajuan meditasi Anda. Perasaan gagal atau berhasil dapat menjadi pelanturan yang terbesar dari segala pelanturan. Jangan mengharapkan atau mencari suatu "pengalaman istimewa" dalam meditasi. Anda tidak perlu merasakan harus ada sesuatu yang terjadi. Mungkin pada permulaan hal ini terasa aneh, karena pengalaman hening masih sangat asing bagi sebagian besar dari kita dan juga bukanlah hal yang membudaya di dalam masyarakat.
Kita tidak terbiasa menjadi sederhana. Namun HENING, DIAM, dan SEDERHANA benar-benar mempunyai suatu tujuan. Dalam salah satu perumpamaan tentang Kerajaan Surga, Yesus membandingkan Kerajaan Surga tersebut dengan seseorang yang menabur benih di tanah. Orang itu kemudian pergi dan meneruskan pekerjaan sehari-hari lainnya. Benih itu tumbuh dan muncul dipermukaan. "Bagaimana benih itu tumbuh, orang itu tidak mengetahuinya". Hal yang sama terjadi pada kita, mantra itu mengakar dalam hati kita. Dan sama seperti di dalam perumpamaan tadi, suatu waktu pasti ada tanda-tanda pertumbuhan. Bisa saja Anda tidak menemuinya dalam meditasi, tetapi justru dalam hidup Anda. Anda akan mulai menuai buah-buah Roh. Anda akan menemukan bahwa Anda mulai berubah dalam kasih. Dan bila Anda pernah menghentikan latihan meditasi Anda, misalnya sehari atau sebulan atau setahun, sebaiknya mulailah lagi, dengan penuh kepercayaan akan kemurahan yang tak terbatas dari Roh Kudus yang hadir di dalam dan di antara kita semua.
MANTRA

Meditasi adalah latihan rohani yang universal yang membimbing kita ke dalam keadaan doa, kedalam doa Kristus.Ia membawa kita kepada hening, diam, dan sederhana, dengan cara hening, diam dan sederhana itu sendiri.
Caranya adalah mengulangi suatu kata yang suci dengan setia dan penuh cinta selama waktu meditasi. Sekarang ini kata suci itu kita namakan "mantra". Inilah cara berdoa kristiani yang kuno yang telah ditemukan kembali oleh seorang rahib Benediktin, Pater John Main (1926-1982).
John Main menemukan kembali cara membawa pikiran untuk beristirahat dalam hati lewat ajaran para rahib Gereja Perdana,terutama John Cassian pada abad ke-4. Tradisi yang sama seperti dalam buku Cloud of Unknowing yang ditulis di Inggris pada abad ke 14.
Berikut cara bermeditasi yang diajarkan oleh John Main.
- Duduk diam dengan punggung tegak.
- Tutuplah mata.
- Ulangi mantra dalam hati secara terus menerus.
Pilihlah waktu dan tempat yang tenang dan bermeditasilah kira-kira 20-30 setiap pagi dan malam.
Mantra yang ideal adalah ungkapan dalam bahasa Aram kuno, "Maranatha". Ucapkanlah denga jelas dan tanpa berhenti selama meditasi, sebagai empat suku kata yang sama panjang : MA-RA-NA-THA.
Ucapkanlah tanpa tergesa-gesa dan tanpa mengharapkan sesuatu akan terjadi. Dengarlah mantra dan kembalilah mengucapkannya bilamana pikiran Anda melayang atau melamun. Bersikaplah sederhana dan lakukanlah dengan setia.
Bahasa Aram adalah bahasa percakapan Yesus, kata 'abba', yang terus menerus digunakan untuk Allah, juga dari bahasa ini. 'Maranatha' adalah doa kuno, yang berarti 'Tuhan datanglah', 'Tuhan telah datang'. St. Paulus mengakhiri Surat Pertama kepada umat di Korintus dan St Yohanes mengakhiri Kitab Wahyu dengan ungkapan ini, yang menyatakan iman yang dalam dan sederhana dari Gereja Perdana.
Sementara Anda mengucapkan mantra, jangan berpikir tentang artinya. Mantra lebih membimbing kita ke kedalaman diri daripada pikiran. Ia membimbing kita dengan iman. Kita mengucapkan mantra dengan penuh iman dan cinta kasih. Mendengarkan mantra ketika kita mengucapkannya merupakan proses yang semakin mendalam dari suatu perjalanan iman.
(dipetik dari : Latihan Harian Meditasi Kristiani - Laurence Freeman, OSB , Obor 1998)












