Jumat, 22 Maret 2013

Meditasi Pemicu Perubahan


Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
JUMAT MINGGU V PRAPASKAH 2013

Baru-baru ini sebuah kendaraan riset tak berpenumpang tercebur  ke laut pada tingkat paling dalam sekali, saya kira tujuh mil dalamnya ke bawah. Para ilmuwan heran ketika terkejut saat menemukan banyak sekalinya kehidupan medi sana, makan detritusa ri(sisa yang tidak termakan hewan lain) sampah yang tenggelam dari permukaan tingkat laut yang lebih tinggi.

Lebih Hidup Dari Hari Kehari

Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
KAMIS MINGGU V PRAPASKAH 2013

Kehidupan datangnya dalam berbagai bentuk dan ukuran dan dari berbagai arah yang tidak terduga. Hal ini tidak tertahankan. Meskipun demikian penolakan kehidupan juga merajalela. Penolakan seringkali dimulai dengan ketakutan karena kehidupan ditandai oleh adanya perubahan oleh karena itu dituntut penyesuaian kita. Bila tuntutan ini terlalu menakutkan kita berusaha untuk mengurangi kemungkinan kehidupan baru itu membatasi kekuatannya sehingga kita dapat mengawasi dengan lebih baik. Tidak lama kemudian yang kita lakukan adalah keberhasilan membuatnya tak berdaya. Kemudian kita mengeluh karena kehidupan tampaknya jadi membosankan atau dirasakan tidak sesuai.


Rabu, 20 Maret 2013

Belajar Kebijaksanaan dari Yesus


Lent Daily Reflections - Laurenca Freeman, OSB
RABU MINGGU V PRAPASKAH 2013.

Kecanggihan adalah suatu sifat yang berbahaya dan seringkali menipu. Yang tampaknya canggih - sopan, cerdik, cerdas, duniawi - sebenarnya bisa jadi sangat bodoh dan naif.

Kata itu menunjukkan kebijaksanaan (sofia). Tetapi jika diterapkan pada lulusan sekolah filsafat, kata tersebut dihubungkan dengan mencari uang dari mengajarkan kebijaksanaan dan dengan merumitkan serta memalsukan kemurnian kebenaran. Banyak lembaga pendidikan tinggi kita sekarang ini juga sangat canggih dan rumit organisasinya. Mereka mempunyai anggaran besar dan dijalankan dengan tujuan perolehan uang tetapi mereka tidak lagi membangkitkan dan memelihara cinta akan kebenaran dan semangat belajar siswanya.

Selasa, 19 Maret 2013

Menerima Diri Kita Sebagai Anugerah


Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
SELASA MINGGU V PRAPASKAH.

Ken Wilber suatu saat tergerak untuk menuliskan kisah tentang cara ia merawat istri yang baru dinikahinya yang menderita sakit sampai saat terakhirnya. Bagi mereka yang mengenal tulisan-tulisannya yang lain akan menghargainya, dia terlahir cerdas dengan selera yang tinggi untuk mendapatkan dan menyatukan pengetahuan dan pemahamannya. Buku-bukunya semakin panjang jadinya. Namun setelah jelas bahwa kanker istrinya sudah tidak dapat diobati lagi, dia meninggalkan semua kegiatan dan minatnya, konsentrasi sepenuhnya untuk merawat dan berada bersama istrinya. Ketika kegiatan tersebut semakin membuatnya stres, dia mulai tegang tidak tertahankan. Pertanda buruk mulai muncul terbayang setelah seorang temannya mengatakan kepadanya untuk menggunakan waktu paling tidak satu atau dua jam sehari melakukan karya intelektualnya, ini dengan bijak diturutnya.

Senin, 18 Maret 2013

Hanya Satu Guru

Lent Daily Reflections - Laurence Freeman, OSB
SENIN MINGGU V PRAPASKAH 2013

Ketika saat krisis, orang akan mencari seseorang disekitarnya yang tampaknya tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan.Ini seringkali menjadikan bencana.



Sebuah negara terpecah dan orang melihat seseorang yang sangat percaya diri dan sarat dengan kenangan mulia. Sebenarnya kepercayaan dirinya didapat dari adanya kesempatan. Dia tahu bahwa inilah saatnya untuk menggunakan kekuasaan dan dia memiliki intuisi yang meyakinkan tentang cara melakukannya. Dia tidak begitu peduli untuk memimpin rakyat menuju ke tempat yang lebih baik, dia hanya menjalankan tugas saja. Mungkin ini meredakan kecemasan yang sangat dan rasa tidak aman di dalam dirinya ,ini hanya dapat ditanggungnya jika dia dapat menguasai dan mengendalikannya.

Terjebak Dalam Perzinahan

Lent Daily Reflection - Laurence Freeman, OSB
HARI MINGGU V PRAPASKAH  2013

Ketika seluruh rakyat datang kepada-Nya, Ia duduk dan mengajar mereka.....Kemudian Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.....(Yohanes 8: 1-11)



Seperti halnya dengan Socrates dan Budha, Yesus mengajarkan secara lisan. Dia tidak meninggalkan buku ataupun risalat dan semua yang kita ketahui mengenai pengajaran-Nya adalah terjemahannya. Seakan tampaknya ada jarak besar antara Dia dan kita. Dalam beberapa hal memang demikian. Pada masa Yesus, kata-kata-Nya sangat mengena perasaan terdalam mereka, sedangkan kita bahkan tidak tahu secara tepat kata-kata yang sebenarnya Ia gunakan.