Jumat, 06 Maret 2015

JUMAT MINGGU KEDUA PRAPASKAH



WCCM Lent Reflections 2015
Friday 2nd week Lent
Matius 21:31-46:
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru

Cita-cita ekolog adalah untuk memproduksi energi baru dengan mengolah ulang semua limbah. Apa pun yang sudah dibuang atau ditolak kemudian disatukan kembali menjadi penghematan dan rasa ketenangan batin dan keseimbangan dapat dicapai. Namun hal ini susah untuk dilakukan baik dalam kehidupan batin maupun dalam tingkat global.

Kamis, 05 Maret 2015

KAMIS MINGGU KEDUA PRAPASKAH

WCCM Lent Reflections 2015
Thursday 2nd Week Lent

Lukas16:19-31:
“…di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi…”

Kita terus menerus hidup dengan jurang antara yang kaya dan yang miskin, yang sehat dan yang sakit, yang pandai dan yang bodoh, yang cantik dan yang buruk, yang kurus dan yang gemuk, yang beruntung dan yang sial. Itulah yang kita pahami tentang ‘dunia’. Yesus berkata ‘karena orang-orang miskin selalu ada padamu’ (Mat 26:11).  Kita akan selalu jatuh dalam semacam kekurangan keadilan sempurna karena hidup itu sendiri tidak adil dan biasanya yang terkuat yang menang. Pertanyaannya adalah seberapa dalam dan luas jurang tersebut dibiarkan terjadi. Semakin luas jurang itu, kita semakin menjadi tidak nyata; semakin dalam semakin menyakitkan jurang itu.

Rabu, 04 Maret 2015

RABU MINGGU KEDUA PRAPASKAH

WCCM Lent Reflections 2015
Wednesday 2nd week Lent

Matius 20:17-28:
Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Sungguh mengagumkan bagaimana gereja dapat mengulang kata-kata Yesus tersebut (baca keseluruhan Injil hari ini dan pengubahan total system kekuasaan sosialnya) dari posisi hirarki dan priviledge (hak istimewa). Satu-satunya hal yang membebaskan gereja adalah hadirnya orang-orang dalam system tersebut (rahib tidak termasuk) yang sungguh-sungguh menyadari ketidakkonsistenan ini. Siapa yang bisa menyalahkan orang yang meninggalkan lembaga tersebut? Lebih daripada memuji orang yang tetap tinggal di dalamnya dan mendengar, sungguh-sungguh mendengar, sabda Sang Guru dan menderita disonansi kognitif (stress mental yang diderita oleh orang yang memegang dua keyakinan yang bertentangan).

Selasa, 03 Maret 2015

SELASA MINGGU KEDUA PRAPASKAH

WCCM Lent Reflections 2015
Tuesday 2nd Week Lent
Matius 23:1-12:
..sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Bacalah perikop Injil secara keseluruhan untuk mendapat kisah selengkapnya tentang kritik pedas Yesus menyerang ‘orang Farisi’ – artinya Farisi Muslim, Farisi Hindu, Farisi Israel, Farisi sekular dan tidak sedikit orang Farisi Kristen. Tidak banyak orang dapat lolos dari pemaparan dan kecaman kemunafikan dan eksploitasi ini. Dan seperti yang akan kita lihat dalam Pekan Suci, Yesus juga tidak dapat lolos darinya. Tapi kita percaya kepada-Nya, karena sengsara dan transendensi setelahnya, dan karena Dia berbicara dari kelekatan penuh kasih-Nya akan kebenaran yang merupakan satu-satunya kelekatan yang membebaskan kita.

Senin, 02 Maret 2015

SENIN MINGGU KEDUA PRAPASKAH

WCCM Lent Reflections
Monday 2nd week Lent 2015
Lukas 6:36-38:
“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.”

Inilah moralitas dasar, sebuah variasi dari aturan emas semua tradisi wisdom – perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Aturan ini menjamin dunia yang adil dan damai. Sebagai moralis Yesus tegas dan menuntut namun tidak aneh-aneh.

Minggu, 01 Maret 2015

MINGGU KEDUA PRAPASKAH

WCCM Lent Reflections 2015
Second Sunday of  Lent 

Markus 9:2-10:
“Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka”.

Penulis novel besar – dan sulit – Henry James pernah diajak ke pertunjukan Punch and Judy oleh beberapa temannya yang usil. Mereka terkesima melihat betapa dia benar-benar terserap dalam bentuk teater yang sangat sederhana ini. Setelah pertunjukan selesai, dia menjadi sangat pendiam sampai akhirnya mereka bertanya apa yang dipikirkannya. ‘Sungguh suatu sarana yang sederhana (economy of means)’, jawabnya, dan dengan sendu menambahkan ‘sungguh suatu penyelesaian yang sederhana (economy of ends).’