Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Miskin dihadapan Allah


Yohanes Kasianus berbicara tentang tujuan meditasi ialah untuk membatasi pikiran melalui kemiskinan satu kata. Kemudian ia menerangkan maksudnya dalam satu kalimat. Ia berbicara tentang menjadi 'benar-benar miskin'. Meditasi memberikan anda pengertian baru tentang kemiskinan. Ketika anda setia mengucapkan mantra, anda akan mulai memahami secara lebih mendalam, dari pengalaman anda sendiri, apa yang dimaksud Yesus ketika Ia berkata: 'Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah' (Mat 5:3). Anda juga akan belajar tentang makna kesetiaan ketika anda setia dan tekun mengucapkan mantra anda.

Sabtu, 11 Juni 2011

DARI DALAM GELAP TERBITLAH TERANG


Jangan dilupakan bahwa di dalam hati yang murni terkandung kesetiaan kita dalam mengucapkan mantra. Kesetiaan pada mantra dari awal sampai akhir setiap meditasi akan membawa kita pada kesederhanaan dan kepolosan karena dengannya kita dapat menyangkal diri.
Kemantapan untuk mewartakan Kristus, pertimbangan (diskresio) yang dibutuhkan untuk melihat bagaimana kita dapat melakukannya hari ini, dan keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dari pengalaman kita sendiri tentang-Nya timbul dari kesetiaan kita bermeditasi setiap hari dan pada mantra kita.

Kamis, 23 Desember 2010

YOHANES KASIANUS SUMBER INSPIRASI DOA



Disepanjang sejarah Kekristenan, pria wanita pendoa menjalankan misinya untuk membawa sesama mereka dan generasi penerus mereka pada pencerahan yang sama, dilahirkan kembali dalam Roh seperti yang dikhotbahkan Yesus. Salah seorang guru ini adalah Yohanes Kasianus dari abad ke empat telah diakui sebagai salah seorang guru yang berpengaruh dalam kehidupan rohani di Barat. Peranan penting yang dimainkan oleh Yohanes Kasianus adalah ia merupakan guru yang memberikan inspirasi bagi St. Benediktus dan kehidupan membiara di Barat, dengan membawa tradisi spiritualitas Timur kedalam pengalaman hidup di Barat.

Dalam mendengarkan dengan perhatian yang penuh pada pengajaran Abbas Iskak membuat Kasianus dibakar oleh semangat berdoa dan keputusan bulat untuk bertekun dalam doa. Abbas berbicara dengan fasih dan tulus tetapi, sebagaimana yg disimpulkan oleh Kasianus dalam konferensi-konferensi yg pertama. "Dengan kata-kata Abbas Iskak, kami terpesona daripada terpuaskan, karena kami merasa bahwa walaupun doa yang sempurna telah diperlihatkan pada kami tetapi kami merasa bahwa walaupun doa yang sempurna telah diperlihatkan kepada kami, tetapi kami masih saja tidak dapat memahaminya dan membutuhkan displin untuk terus berdoa dengan tekun dan setia".

Kasianus dan Germanus kembali pada Abbas Iskak setelah beberapa hari, dengan pertanyaan sederhana: "Bagaimana kami harus berdoa? Ajarlah kami, tunjukkanlah pada kami." Jawaban atas pertanyaan mereka dapat ditemukan dalam Konferensi Kasianus Yang Kesepuluh, yang mempengaruhi pemahaman orang-orang dinegara Barat tentang doa sampai saat ini.

Unsur-unsur yang berkaitan erat dengan doa : kemiskinan dan penebusan, menyebabkan Kasianus menyebut doa sebagai "kemiskinan". "Pikiran harus terus menerus berpegang teguh pada mantra", tulis Kasianus, "sampai kita merasa kuat karena kita telah menggunakannya secara terus menerus", mantra mengesampingkan segala kekayaan pikiran yang lalu lalang dan membatasi pada kemiskinan satu kata.

Bagi mereka kemiskinan ini menggenapi kalimat sabda bahagia pertama: "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" (Mat 5:3)


(The Teaching of John Main on Christian Meditation - MK Sby)