Tampilkan postingan dengan label Kasianus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasianus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

MEDITASI SEBUAH DOA


Ketika saya (John Main - red) membaca buku Yohanes Kasianus tentang doa, saya segera teringat akan doa yang dianjurkan oleh Yesus ketika Ia menceriterakan kepada kita seorang pendosa yang berdiri di belakang bait Allah dan berdoa dalam kalimat yang singkat : "Ya Allah, kasiahanilah aku orang berdosa ini" (Luk 18:13). Dia pulang sebagai seorang "yang dibenarkan",

Kata Yesus kepada kita. "Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Mat 6:7-8)


Sebagaimana telah saya katakan, berdoa bukanlah berarti berbicara kepada Allah, tetapi mendengarkan Dia, hadir di hadirat-Nya. Kiranya ini adalah pemahaman yang sangat sederhana mengenai doa yang mendasari nasihat Yohanes Kasianus. Jika kita ingin berdoa, ingin mendengarkan, maka kita berusaha untuk sungguh tenang dan diam, dengan mengucapkan satu ayat pendek secara terus menerus. Kasianus menerima metode ini sebagai sebuah tradisi tua pada zamannya, suatu tradisi yang universal yang sudah lama ada.

Ratusan tahun kemudian setelah Kasianus, seorang pengarang Inggris menulis buku "The Cloud of Unknowing" yang juga menganjurkan mengucapkan sebuah kata singkat secara berulang-ulang. "kita harus berdoa dengan seluruh jiwa kita, tidak dalam banyaknya kata-kata tetapi dengan sedikit kata".


(The Teaching of John Main on Christian Meditation - WCCM Sby)


Kamis, 03 Februari 2011

SAYA SUDAH BERJALAN CUKUP JAUH


Guru doa ternama dari abad keempat, Yohanes Kassianus, telah mencatat bahaya ini dengan apa yang ia sebut sebagai 'pax perniciosa', perasaan damai yang berbahaya. Pax Perniciosa harus diingat jika kita berpikir bahwa, "Saya sudah berjalan cukup jauh dan tidak dapat berjalan lebih jauh lagi, maka cukup sampai disini saja". Perniciosa berarti sesuatu yang merusak atau berakibat fatal. Saya sendiri yakin bahwa banyak orang tidak dapat mencapai perkembangan yang seharusnya, yang dapat mereka capai di dalam doa, dan tidak menjadi lepas-bebas dalam doa hanya karena mereka memilih kemalasan yang merusak ini, mereka terlalu cepat menyerah dalam perjalanan mendaki gunung; mereka berhenti mengucapkan mantra.

Saat kita bermeditasi kita harus mengucapkan mantra selama duapuluh atau tigapuluh menit, tanpa menghiraukan suasana hati kita saat itu. Bila kita semakin setia mengucapkan mantra, maka kita menggemakannya selama seluruh waktu meditasi kita, apapun gangguan atau suasana hati yang mungkin timbul. Kemudian, saat mantra telah mengakar dalam hati kita, kita harus mendengarkannya terus menerus dengan penuh perhatian.

(The Teaching of John Main on Christian Mediation - WCCM Sby)

Sabtu, 15 Januari 2011

MEDITASI MENJADIKAN DAMAI



Meditasi adalah cara yang baik untuk mengatasi segala macam pelanturan karena tujuan dari kata-doa adalah untuk menjadikan pikiran anda damai, hening dan dapat berkonsentrasi. Tidak untuk membawa pikiran kita bersandar pada pikiran-pikiran suci tetapi melampauinya segala pikiran.

Mantra bagaikan sebuah bajak yang mengolah pikiran kita dan mengesampingkan yang lain - 'membuat tanah yang kasar menjadi rata'. Anda ingat apa yang dikatakan oleh Kasianus "membuang dan menolak kekayaan pikiran kita". Itu dikarenakan pikiran kita 'ringan dan mengembara', bagai bulu yang terbang dengan tiupan angin . Kasianus menyarankan mantra sebagai cara untuk mengatasi pelanturan dan menjadi stabil.

Pada pokoknya seni untuk mengucapkan mantra ialah mengucapkannya, mendengarkannya dan mengabaikan semua gangguan. Berikan prioritas utama pada mantra diatas segala-galanya. Lama kelamaan, setelah anda cukup teratur mengucapkan mantra, pelanturan akan berkurang. Guru saya selalu mengatakan bahwa ada tiga tujuan utama waktu anda mulai bermeditasi : Tujuan pertama adalah mengucapkan mantra selama meditasi anda. Itu tujuan utama dan mungkin dapat dicapai dalam satu tahun atau mungkin sepuluh tahun. Tujuan kedua adalah mengucapkan mantra anda dan dengan tenang menghadapi segala gangguan yang datang. Dan tujuan yang ketiga adalah mengucapkan mantra seluruh waktu meditasi anda tanpa ada gangguan.

(The Teaching of John Main on Christian Meditation - wccm sby)

Kamis, 23 Desember 2010

YOHANES KASIANUS SUMBER INSPIRASI DOA



Disepanjang sejarah Kekristenan, pria wanita pendoa menjalankan misinya untuk membawa sesama mereka dan generasi penerus mereka pada pencerahan yang sama, dilahirkan kembali dalam Roh seperti yang dikhotbahkan Yesus. Salah seorang guru ini adalah Yohanes Kasianus dari abad ke empat telah diakui sebagai salah seorang guru yang berpengaruh dalam kehidupan rohani di Barat. Peranan penting yang dimainkan oleh Yohanes Kasianus adalah ia merupakan guru yang memberikan inspirasi bagi St. Benediktus dan kehidupan membiara di Barat, dengan membawa tradisi spiritualitas Timur kedalam pengalaman hidup di Barat.

Dalam mendengarkan dengan perhatian yang penuh pada pengajaran Abbas Iskak membuat Kasianus dibakar oleh semangat berdoa dan keputusan bulat untuk bertekun dalam doa. Abbas berbicara dengan fasih dan tulus tetapi, sebagaimana yg disimpulkan oleh Kasianus dalam konferensi-konferensi yg pertama. "Dengan kata-kata Abbas Iskak, kami terpesona daripada terpuaskan, karena kami merasa bahwa walaupun doa yang sempurna telah diperlihatkan pada kami tetapi kami merasa bahwa walaupun doa yang sempurna telah diperlihatkan kepada kami, tetapi kami masih saja tidak dapat memahaminya dan membutuhkan displin untuk terus berdoa dengan tekun dan setia".

Kasianus dan Germanus kembali pada Abbas Iskak setelah beberapa hari, dengan pertanyaan sederhana: "Bagaimana kami harus berdoa? Ajarlah kami, tunjukkanlah pada kami." Jawaban atas pertanyaan mereka dapat ditemukan dalam Konferensi Kasianus Yang Kesepuluh, yang mempengaruhi pemahaman orang-orang dinegara Barat tentang doa sampai saat ini.

Unsur-unsur yang berkaitan erat dengan doa : kemiskinan dan penebusan, menyebabkan Kasianus menyebut doa sebagai "kemiskinan". "Pikiran harus terus menerus berpegang teguh pada mantra", tulis Kasianus, "sampai kita merasa kuat karena kita telah menggunakannya secara terus menerus", mantra mengesampingkan segala kekayaan pikiran yang lalu lalang dan membatasi pada kemiskinan satu kata.

Bagi mereka kemiskinan ini menggenapi kalimat sabda bahagia pertama: "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" (Mat 5:3)


(The Teaching of John Main on Christian Meditation - MK Sby)