Lent Daily Reflections - Laurence freeman, OSB
Selasa Minggu IV Prapaskah 2013
Saya sedang berbicara dengan seseorang tentang orang lain yang telah
melukai hatinya. Dia berkata 'Aku bisa baik-baik saja dengannya sekarang. Tapi
aku tidak akan pernah memaafkannya'. Pernyataannya : 'tidak akan pernah',
bukannya 'tidak akan dapat'.
Saya terkesan
dengan adanya pertentangan bahkan dengan bangga penegasannya tidak pernah
memaafkan. Seolah-olah dia tahu bahwa dia mempunyai kemampuan untuk memaafkan,
melepaskan dan melanjutkan. Namun, apapun alasannya, dia memilih untuk tinggal
bersama pahit manisnya menyatu dengan perasaan dendam dan marah. Mungkin itu
membuat kita merasa puas bermoral lebih hebat - 'Aku dipihak yang terlukai jadi
aku selalu dipihak benar selama aku menunjukkan rasa dendam itu'. Mungkin juga
tidak banyak kebebasan untuk memilih tidak memaafkan seperti sangkaan kita.
